Memo untuk Ibu
Sebuah kisah tentang seorang anak berumur 7 tahun, sekali lagi penulis ingin menggugah hati pembaca untuk meresapi cintah kasih seorang ibu terhadap buah hatinya, silahkan meraba hati saat ku kirim kisah ini untuk anda.
Minggu, 1997.
Tergesah-gesah ku menuju rumah setelah usai dari pasar membeli beberapa belanjaan untuk ibu, tentunya setelah puas memandangi gadis manis anak pemilik toko. Segera ku kayuh sepeda mini berwarna biru bergaris itu dengan barang belanjaan tercentel berantakan di setir sepeda, kali ini ku tantang jalanan 1 kilo dari rumah. Perjalanan ini terasa berat bagi bocah seusiaku, keringat menetes tak karuan, bau hangus tercium seolah matahari telah membakar rambut.
Aku menghambur ditengah tukang becak, pedagang sayuran, dan kumpulan manol kuli angkat. Motivasi untuk ke pasar bukan semata untuk membantu ibu, tapi ada hal tenar yang tersimpan selama ini, gadis cantik anak pemilik toko dan kumpulan koin untuk perjuanganku adalah Tujuan utama merampas uang belanjaan ibu dan bersepeda ke pasar.
Sesampainya di rumah Segera kutulis memo untuk ibu yang berisikan imbalan untuk keringatku hari ini, segera kutuliskan apa yang telah kukerjakan, kutaruh kertas kecil itu didepan dapur, kuharap beliau membacanya dan memberi award untuk pekerjaan yang ku lakukan.
Hari ini ada beberapa pekerjaan yang ku lakukan yaitu:
merapikan kamar tidur, 500 rupiah.
mencuci piring, 500 rupiah.
mengambilkan pisau ibu di dapur, 300 rupiah.
mengerjakan PR, 1000 rupiah.
dan tentulah yang paling besar dan istimewa adalah pergi kepasar, 3000 rupiah.
jadi jumlah hutang ibu kepada ku adalah 5300 rupiah.
setelah ibu menutaskan pekerjaan didapur ibu menemukan kertas kecil itu, aku mengintip dibalik almari tua pemberian nenek. Setelah ibu membaca beliau mendekatiku, memandang penuh harap. berbagai kenangan terlintas di benak ibu, lalu ibu mengambi l pulpen, membalikkan kertasnya dan inilah yang ibu tulis:
Untuk Sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis.
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Mengobati dan mendoakanmu, gratis.
Untuk semua saat susah dan air mata mendidik kamu, gratis.
Jika semua dijumlahkan semua kasih sayang ibu adalah GRATIS.
Untuk semua cinta, mainan, makanan, baju, semuanya GRATIS.
Sesaat ibu berkata “anakku dan kalau kamu menjumlahkan semuanya akan kau dapati bahwa harga cinta kasih ibu adalah GRATIS”.
Seusai membaca apa yang ditulis ibu tak dapat kutahan air mataku. maaf bu aku sayang ibu, kemudian segera kuambil pulpen dan kutulis dengan huruf yang sangat besar, “LUNAS”. kupeluk ibuku erat-erat dan tak akan lagi ku minta imbalan untuk setiap pekerjaan.
I LOVE YOU BU, aku janji akan membahagiakan ibu.








Perawan Desah
Sedang kangen ya mas ceritanya? Saya juga sering kangen mas. Salam kenal ya mas. (Eny-Semarang)
budies
wah, anak dan ibu yang akhirnya bisa membuatku merefleksi diri…
sukses mas
budiesastro
mas commentluv-nya kok gak jalan, …
yunus chalim
aduh pak,, itu apa lagi ya,,,, saya kok gak ngerti bahasanya sampyan ya,, jujur saya belum bisa ngeblog yang baik yang bener, saya baru belajar… mohon bimbinganya..
Nanang
Hmmm….saya paling tersentuh dgn segala sesuatu yang berkaitan dgn ibu.
aulawi
kisah yang manis, tq ya dah share
yak
wah, awak pernah baca kisah ini di novel bergambar, tapi tetep aja mengharukan…
enyaaaaaak……..
way of harmony
mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa hikzzzzz
ridwan
kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah
-salam kenal
yunus chalim
yak: saya mendengar cerita ini dari seorang kawan, saya coba menyajikan dengan bahasa khas saya
cHie
sepertix saia familiar ma kata2 itu…
way of harmony
dtunggu kunjgn balikny
intan rawit
terharu,,,hiks2..jadi kangen sama ibu di rumah..
yuni
so sweet……
kadang kita tak menydari betapa pentingnya peran ibu bagi kita.
emak, all do my best for you….. ^_^
Love4Live
cerita yg sungguh menyentuh…
Febri
so sweet…
bayu
luv u mom…..